Tampilkan postingan dengan label Sketsa Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Negeri. Tampilkan semua postingan

Sketsa Negeri

Posted by Unknown on 15.24




Sketsa mentari emas yang congkak,
Kokoh berdiri menikam laut,
Meski akan tenggelam di ufuk cakrawala,
Berteman senja nan mulai turun memekat,


Angin seakan mati, lautpun sekonyong terpukau, 
Henyak terdiam, hening menyelimuti alam,
Bumi terdiam, sunyi sepi mencekam,
Seakan menunggu keputusan sakral,
Menunggu torehan alam, 
Haus tuk melukis sketsa wajah bijaksana,


Mentari emas,
Aku tak habis mengerti,
Mengapa jerit hati mereka seakan tak bersuara,
Ratap jiwa mereka sekan lenyap di telan dahaga,


Dirundung gemuruh gundah gulana tak terperih,
Ratap hatiku coba mengetuk dirimu,
Jelmaan manusia mentari emas,
Mungkin lewat segumal nyanyian,

Aku dapat menyusup kalbumu,
Ku susun huruf, kurangkai kata, 
Sekedar menguak jendela hatimu, 
Jendela hati kita semua yang mungkin bisa terbuka,


Tuk sekedar mendengar keluh mereka,
Jeritan kecil, manusia-manusia kecil nan renta,
Berwajah kusut masai kala terpanggang getir,
Tinggal di kaki langit, disela pilar rumput yang semakin menghimpit,


Digerus zaman yang mulai tak banyak tuan,
Dikurung berjuta mata yang menatap hilang dan hampa,


Tuhan, 
Kuserahkan jiwa raga mereka lewat titah-Mu,
Tuk merubah hitam putih potret kelam tanah ini,
Tuk mengobati pertiwi dan selaksa jiwa manusia,
Yang mulai kerdil menikam tak berhati,
Mulai congkak bersinar bak Mentari Emas nan panas,


Tuhan,
Dengar do’a kami,
Arahkan mata hati mereka,
Yang bermain di perlehatan negeri ini,
Agar mereka tak selalu tutup mata,
Yang tak mampu mendengar jerit hati perih mereka,
Yang terkalahkan karena keadaan & kondisi,
Yang terabai oleh waktu yang tergerus zaman,
Yang selalu memerah luka, tersiksa kefakiran,
Karena jejak dibakar sketsa “Mentari Emas”


Ingin kututup sekat hati ini, 
Sekat hati yang paling rapat,
Yang dulu pernah rapuh, 
Dimakan rayap waktu,

Konflik Masyarakat

Posted by Unknown on 16.11



Konflik yang terjadi di masyarakat selama ini banyak disebabkan adanya kesenjangan sosial, baik terkait ekonomi, hukum mau pun sosial politik, konflik yang dilatarbelakangi kesenjangan sosial itu dapat dilihat dari sejumlah peristiwa di tanah air. Contoh kerusuhan sosial pada tahun 1998 yang korbannya mayoritas etnis Tionghoa dan berujung pada lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan.

Memang secara objektif, kesenjangan itu juga disebabkan adanya keunggulan di bidang sumber daya, akumulasi modal dan penguasaan teknologi di kalangan etnis Tionghoa. 




Namun dalam pandangan masyarakat, kesenjangan itu juga muncul karena adanya peranan pemerintah dengan memberikan berbagai kemudahan sehingga memunculkan potensi konflik. 

Ketika potensi kekuasaan pemerintah dinilai lemah, masyarakat yang telah lama menyimpan kekesalan terhadap kesenjangan itu menjadi "meledak" sehingga mudah untuk melakukan kerusuhan. Kondisi itu juga dapat dilihat dari kerusuhan massal di Ambon karena adanya kesenjangan sosial antara "penduduk lokal" dengan kaum pendatang. Ketika unsur kekerabatan di Ambon yang dikenal dengan "Larul Ngabal" masih kuat, berbagai potensi konflik masih dapat diatasi dengan musyawarah adat. 

Namun ketika unsur kekerabatan dalam adat itu mulai terkikis modernisasi, apalagi ketika kewibawaan pemerintah mulai luntur di mata masyarakat, kesenjangan sosial akhirnya berkembang menjadi kerusuhan massal. 

Peristiwa Sambas-Singkawang di Kalimantan Barat terjadi akibat adanya kesenjangan antara etnis Dayak-Melayu dengan Madura yang secara kedaerahan dianggap sebagai kaum pendatang. 

Bentrokan antar etnis di Papua yang hanya disebabkan hal sepele bisa menjadi perang etnis/suku yang amat besar yang mengakibatkan korban jiwa dan materi.

Bentrokan antar pendukung kandidat atau parpol hanya karena tidak menerima kekalahan, sebagai bentuk belum siapnya atau belum pahamnya masyarakat akan arti demokrasi

Karena itu, pemerintah diharapkan dapat mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengurangi kesenjangan tersebut guna meredam potensi konflik yang ada di masyarakat. 

Hal itu perlu disikapi karena dalam analisa yang lebih mendalam, tidak jarang kesenjangan tersebut muncul disebabkan adanya "peranan" pemerintah melalui pemberlakuan kebijakan yang kurang adil. "Dalam banyak hal, pemerintah sering menerapkan 'politik belah bambu', satu dipijak, satu diangkat,"






Sedang konflik bernuansa agama bukanlah watak domestik bangsa Indonesia, melainkan akibat pengaruh konflik global antara Barat dan Timur setelah perang dingin, 

"Perang terhadap terorisme mengakibatkan tersebarnya teroris, antara lain ke Indonesia, dan melawan Barat dari Indonesia," 

Sedangkan berbagai konflik massal lainnya, terjadi karena sistem yang terlalu longgar, kepemimpinan yang lemah, serta terusiknya rasa keadilan dan keteladanan. 

"Di Indonesia sebelum reformasi tidak ada perang agama, yang ada adalah perang kemerdekaan, Islam masuk ke Indonesia tanpa perang dengan agama yang sudah ada terlebih dulu yakni Hindu, Buddha, dan agama lokal, melainkan melalui perdagangan serta akulturasi budaya. 

Penyebaran Islam di Indonesia dilakukan tanpa membongkar kerajaan-kerajaan, namun pengislaman personal dalam kekuasaan dengan menyantuni budaya lokal dan kearifan lokal Indonesia sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. 

"Sejarah ini membuahkan negara Pancasila sekalipun mayoritas Muslim, karena Pancasila telah memuat nilai seluruh agama. Indonesia bukan negara formal tapi juga bukan negara sekuler karena melindungi seluruh agama tanpa mencampuri urusan ajaran agama, juga tidak terjadi pemisahan agama dan negara karena akan merusak keduanya. 

Masyarakat diharapkan mewaspadai gerakan transnasional yang memaksakan masuknya sistem politik tertentu, termasuk yang berkarakter agama, ke negara lain. 

"Hal ini tidak hanya melanda Islam, namun juga agama Kristen. Kita harus hati-hati," 





Indonesia yang dikenal dengan kerukunannya dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika mulai terkikis dan mulai pudar artinya.. 

kenapa...??

> Apakah masyarakat mulai kurang paham akan arti toleransi..?
> Apakah Pancasila sebagai dasar idiologi bangsa mulai lemah pengaruhnya..?
> Apakah Cakar Garuda Pancasila mulai lemah menggeggam pita Bhineka Tunggal Ika..?


Entahlah
Karena toh sistem ini buatan manusia dan buatan manusia tak ada yang abadi


Sekali Lagi Potret Nyata Indonesia

Posted by Unknown on 23.55


Rabu (17/11/2010). Sudah lebih dari 6 jam, ratusan warga miskin di Depok mengantri untuk mendapatkan satu kilogram daging kurban di depan pintu gerbang Polres, Depok. Karena sudah tidak sabar, ratusan warga itu mendorong pintu gerbang Polres Depok hingga penyok.

Ratusan warga yang didominasi ibu rumah tangga dan anak-anak ini sudah mengantre sejak usai salat Id tadi pagi. Padahal pembagian daging kurban baru akan dilakukan usai salat dzuhur.

Melihat aksi warga yang saling dorong, bahkan ada beberapa yang terinjak-injak dan ada pula yang pingsan ini membuat petugas yang berjaga didepan gerbang kewalahan. Kepala Satuan Intel dan beberapa anggota provost langsung turun tangan mengatasi kericuhan ini.



Kericuhan ini bermula saat petugas hanya membagikan kupon kepada kaum ibu dan anak-anak. Para lelaki yang sama-sama mengantri sejak pagi pun melakukan aksi dorong mendorong itu. Untuk menyiasati agar pembagian daging kurban berlangsung tertib, petugas membolehkan warga masuk secara bertahap yakni per 20-30 orang.

Mayoritas warga mengeluhkan kejadian ini. "Inilah nasib orang kampung, yang mau makan daging saja hanya 2 kali dalam satu tahun. Idul Fitri dan Idul Adha saja," kata salah seorang warga Kampung Mangga, Pancoran Mas.

Keadaan semakin kacau saat aksi dorong-dorongan ini tak mereda. Terlebih, anak-anak kecil yang dibawa kaum ibu menangis. Beberapa orang ibu juga terlihat mengalami lecet-lecet dikakinya. Idul Adha kali ini Polres Depok hanya membagikan 400 paket untuk warga, sedangkan 300 untuk anggota Polres.



Sungguh ironis potret negeri ini, di satu sisi gedung tinggi megah, mobil-mobil mewah, kehidupan bergelimang  glamor, disisi lain tak jauh dari itu  masyarakat menjerit, hanya demi ½ kg daging kurban atau uang zakat, mereka rela berdesak-desakan, terijak-injak bahkan kehilangan nyawa.

Orang kaya mengorbankan harta untuk beramal, sedangkan orang miskin mempertaruhkan atau mengorbankan nyawa untuk memperoleh amalan orang kaya.

Teringat kisah sahabat nabi Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang utk me­ngetahui kehidupan rakyat terutama mereka yg hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri ia memikul gandum yg hendak di­berikan sebagai bantuan kepada seorang janda yg sedang dita­ngisi oleh anak-anaknya yg kelaparan.

Subhanalah,.. Sungguh kami rindu..


Ilustrasi Konsep Bandung Masa Depan

Posted by Unknown on 02.08















































Sumber : Draft Konsep Revisi RTRW Kota Bandung 2010-2030

Majalaya Kotaku Sayang Kotaku Malang

Posted by Unknown on 09.42




" Complicated " Trotoar + Parkir + Lalin + Pasar +




Paru-paru kota yg tersisa dipinggirn kota diantara habitat produsen polutan




070910.. siangnya panas dpadati populasi,. malamnya terendam




Penguasa Jalanan




Dimana pun jadi..



Area parkir terluas dan terpanjang




Taman Kota yang Tersisapun Tergadai

Enam Syarat Kota Modern

Posted by Unknown on 08.49

Enam syarat kota modern adalah:

(1) Bebas Banjir

(2) Ketersediaan air bersih untuk rumah tangga dan industri

(3) Sarana angkutan sampah padat dan cair yang andal.

(4) Ketersediaan angkutan kota dan antar kota yang nyaman.

(5) Ketersediaan tenaga listerik

(6) Ketersediaan sarana komunikasi.

Tetapi sekarang syarat ini ditambah dengan dua syarat lagi, yaitu

(7) Pembatasan polusi berasal gas dari pembakaran hidrokarbon.

(8) Pembatasan kandungan padatan renik berukuran 10 mikron.


Boro-boro delapan syarat, ke-enam syarat saja tidak satupun dipenuhi oleh kota-kota besar di Indonesia. Ke-enam syarat ini digunakan untuk memberi angka (bench marking) kenyamanan kota. Jakarta sebagai ibukota RI mempunyai nilai kenyaman jauh di bawah standard internasional. Kenyataan ini sungguh memalukan. Ketika kota-kota modern lain di dunia menuju konsep eco-city, mutu ecosystem kota Jakarta malah semakin melorot dari sehari-ke-sehari. Menanggulangi banjir di dataran banjir dengan cetak biru rekayasa pengendalian banjir versi Departemen KimPrasWil dengan biaya 12 trilyun rupiah, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah banjir. Penanggulangan ini berbasis pada konsep anthropocentrism yang jauh dari konsep post-modernism yang berbasis pada ecocentrism dalam bidang rekayasa dan lingkungan.


Anthropocentrism berpedoman pada dalil kepongahan manusia, bahwa alam (termasuk banjir) dapat dikendalikan dengan berbagai perangkat keras dan teknik pengendalian yang piawai. Teknologi ini pengendalian banjir yang diperkenalkan di berbagai universitas sudah berumur 100 tahun, dan di Negara-negara berkembang masih dijadikan acuan. Lagi-lagi kita kecolongan konsep berfikir kreatif dan innovatuf. Banjir mempunyai logikanya sendiri dan aturan yang ditetapkan manusia, khususnya yang diselesaikan dengan cetak biru rekayasa versi Departemen KimPrasWil tidak akan berhasil, kecuali dengan biaya pemeliharaannnya akan super mahal berupa pemeliharaan alur agar selalu siap menampung beban banjir. Jadi, 12 trilyun rupiah akan hilang percuma!


Apakah ada alternatif rekayasa lain untuk mitigasi banjir di dataran banjir?


Ada tetapi ruangan ini terlalu sempit dan lagi terlalu teknis. Tetapi pesan yang penting adalah, bahwa industri konstruksi rekayasa infrastruktur yang sekarang dijadikan rujukan, khususnya dalam rekayasa pengendalian banjir, pengelolaan sumber daya air, jaringan jalan raya sangat boros dan bersiko dan karena itu rancangan proyek-proyek publik merupakan sumber pemborosan dan pendekatan rekayasa dan ekonominya perlu dicermati dengan baik dan professional untuk melindungi uang publik.


Sarana ke-dua, ke-tiga dan ke-empat, juga tak pernah dapat dilaksanakan dengan baik; selalu reaktif dan tertinggal oleh permintaan, suatu cacat dari segi manajemen kota yang modern. Di ketiga butir itu juga banyak sekali terjadi kejanggalan yang hanya dapat diselesaikan dengan good-governance dengan teknologi dan rekayasa yang kreatif, innovatif dan –ini sangat penting—dapat dipertanggung-jawabkan (accountable) secara rekayasa dan ekonomi. Jangan lupa, uang rakyatlah yang digunakan untuk membangun infrastruktur fisik.


Ketika di Eropa dan Amerika telah terjadi keseimbangan populasi antara kota dan Desa, di Negara kita terjadi urbanisai besar-besaran ke kota-kota besar. Urbanisasi adalah gejala (symptom) bukan akar masalah yang sebenarnya. Menghilangkan simpton adalah pekerjaan sia-sia; orang arif akan selalu mencari dan menyelesaikan akar masalah; orang dungu berpuas diri dengan penyelesaian simptomatik. Tidak memerlukan pakar sosiologi untuk mengerti mengapa terjadi urbanisasi ke kota. Kemiskinan dan peluang kerja yang berbasis pertanian semakin sempit. Pertumbuhan populasi yang cepat (2% ?) dan tanah yang sudah sempit tidak lagi dapat menunjang untuk menghidupi keluarga. Terjadilah penjualan tanah-tanah petani gurem kepada orang-orang kota, dan dengan itu terjadilah proses pemiskinan di pedesaan, dan akhirnya urbanisasi dan pemilik tanah tinggal menunggu perkembangan yang akan menaikan harga tanah. Uang menjadi terperangkap dalam sindrom memperoleh keuntungan lebih (gain) tanpa berproduksi.


Tentu saja, urbanisasi tidak melulu oleh perpindahan orang Desa ke Kota, tetapi sekarang ini juga muncul gejala urbanisasi dari luar-luar daerah, mereka membentuk koloni-koloni seperti PKL dan timbulah kekumuhan kota. Tetapi ini masalah yang lain lagi, dan yang menjadi focus sekarang adalah bagaimana mensejahterakan Desa dan membangun Eko-Desa. Lagi-lagi penyelesaiannya adalah kembali ke sumber daya alam primer yaitu lahan air dan lingkungan biotic, tetapi dalam cakupan yang modern, di mana desa terlibat dalam jaringan proses produksi. Tetapi kearifan inipun membutuhkan kemauan politik penguasa, lagi-lagi karena alasan sociologis yang membentuk pola paternalistik yang diperkuat oleh sistim penguasa itu sendiri.


Sugandar Sumawiganda, Ir., M.Sc., Ph.D.

  • RSS
  • Delicious
  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site