Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Apakah Syah Lebaran Besok?

Posted by Unknown on 18.47

(Berikut penjelasan Ketua Majelis Tarjih dan Tabligh PP Muhammadiyah)


Dari Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A.:
Ada pertanyaan di kalangan beberapa orang anggota masyarakat tentang lebaran besok Selasa di mana? puasanya dengan demikian hanya 29 hari, apakah itu sah? Jawabannya adalah bahwa Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah,  dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk.  Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.
Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:
  1. Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,
  2. Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab.
Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:
  1. Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),
  2. Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,
  3. Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.
Memang perlu dilakukan upaya untuk menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan yang memilukan ini. Untuk itu kita harus berani beralih dari rukyat (termasuk rukyat yang dihisab) kepada hisab. Di zaman Nabi saw rukyat memang tidak menimbulkan masalah karena umat Islam hanya menghuni Jazirah Arab saja dan belum ada orang Islam di luar jazirah Arab tersebut. Sehingga bila bulan terlihat atau tidak terlihat di jazirah Arab itu, tidak ada masalah dengan umat Islam di daerah lain lantaran di daerah itu belum ada umat Islam. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, di mana umat Islam telah menghuni seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Apabila di suatu tempat hilal terlihat, maka mungkin sekali tidak terlihat di daerah lain. Karena tampakan hilal di atas muka bumi terbatas dan tidak meliputi seluruh muka bumi. Rukyat akan menimbulkan problem bila terjadi pada bulan Zulhijah tahun tertentu. Di Mekah terlihat, di Indonesia tidak terlihat, sehingga timbul masalah puasa Arafah.
Jadi oleh karena itu penyatuan itu perlu, dan penyatuan itu harus bersifat lintas negara karena adanya problem puasa Arafah. Artinya siapapun yang mencoba mengusulkan suatu sistem kalender pemersatu, maka kalender itu harus mampu menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan lain dunia agar puasa Arafah dapat dijatuhkan pada hari yang sama. Ini adalah tantangan para astronom Indonesia. Kita menyayangkan belum banyak yang mencoba memberikan perhatian terhadap penyatuan secara lintas negara ini. Perdebatan yang terjadi baru hanya soal kriteria awal bulan, yang itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan masalah penyatuan kalender.
Sementara kita masih belum mampu menyatuakan penanggalan hijriah, maka bilamana terjadi perbedaan kita hendaknya mempunyai toleransi yang besar satu terhadap yang lain dan saling menghormati. Sembari kita terus berusaha mengupayakan penyatuan itu.

Memaknai Kemerdekaan di Bulan Kemenangan

Posted by Unknown on 15.24



Puasa merupakan salah satu dari sekian banyak perintah Allah, yang tiada lain selain meningkatkan ketakwaan umat terhadap Allah wazallah. Kedatangan bulan puasa memberikan kebahagian tersendiri bagi umat manusia karena pada bulan tersebut merupakan bulan penuh ampunan terhadap segala dosa yang telah diperbuat oleh umat manusia sendiri. Selain itu, bulan puasa juga dapat meningkatkan ikatan ukhwuah insaniah karena disana umat manusia dapat melakukan saling mema’af ma’afan.

Perintah untuk berpuasa, bagi saya adalah perintah untuk merenungkan segala aktifitas yang kita lalui dan sesuatu hal yang ada dibalik keajaiban Allah SWT (hidayah dan rahmat allah yang telah disuguhkan untuk kita sebagai hamba Allah SWT). Pada bulan ramadhan kita bisa merenungkan apakah aktifitas yang kita lakukan mempunyai makna ketakwaan atau malah sebaliknya?

Dalam konteks ini penulis ingin menyorot aktifitas yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa kita yang mengemban amanah akan membimbing dan mengayomi masyarakat untuk menuju kesejahteraan dan keadilan hidup. Pemimpin dalam sebuah negara demokrasi adalah salah satu aktor yang ditetapkan secara kolektif untuk mewujudkan tujuan bersama. Tujuan bersama negara Indonesia adalah isi dari pada pancasila. Pertanyaannya sudahkah isi pancasilal direalisasikan oleh para pemimpin- pemimpin bangsa saat ini?

Baru saja kita lewati hari 17- Agustusan yang merupakan hari renungan kemerdekaan Indonesia yang ke-66. Dan pada waktu yang sama, banyak artikel- artikel yang memuat krisis multi dimensi bangsa yang masih dirasakan oleh bangsa saat ini. Artinya, masyarakat masih belum merasakan akan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini lebih disebabkan oleh adanya pemimpin yang tidak bertanggung jawab untuk menjalankan amanahnya. Arogansi dan egeoisme kebijakan publik yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah salah satu bentuk adanya incapabilitas seorang pemimpin.

Dalam bulan puasa ini diharapkan para pemimpin negara mampu meningkatkan sense of responsibility akan kesejahteraan dan keadilan bangsa. Pemimpin harus bisa melihat realitas sosial politik yang terjadi. Dan juga harus mampu membuat regulasi yang menyentuh kehidupan masyarakat. Bukan membuat kebijakan yang menyusahkan masyarakat yang berada ditengah- tengah lingkiran setan (lingkaran kemiskinan).

Puasa jangan hanya dijadikan sebagai rutinitas ritual islam, tapi jadikan sebagai bahan evaluasi keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT. Bagi para pemimpin puasa harus dijadikan sebagai pengevaluasian segala kebijakan yang telah ditetapkan atau yang telah dijalankan apakah sudah menyentuh kehidupan umat manusia. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang menghargai nilai- nilai kemanusiaan. Menghargai nilai- nilai kemanusiaan adalah menghargai perintah allah SWT. Artinya, pemimpin menjalankan kebijakan dengan baik sama artinya telah bertakwah kepada Allah SWT. Bertakwah kepada Allah SWT adalah salah satu tujuan dari perintah dalam melakukan puasa. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah 183 yang artinya: Hai orang- orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu adalah agar kamu bertakwa.

Di sisi lain seluruh umat muslim harus melihat makna puasa dalam dimensi sosial. Artianya puasa bukan hanya urusan ritual personal tapi juga merupakan urusan sosial antar sesama manusia. Umat muslim harus memiliki kesadaran bahwa mereka adalah hamba Allah yang saling tolong menolong dalam kesusahan. Artinya, umat muslim harus menganggap bahwa urusan kemiskinan adalah urusan bersama. Para tokoh- tokoh islam harus mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah yang memihak kepada masyarakat miskin. Kita tidak mungkin menyeruh tentang zakat, sadaqah, dan infaq? ditengah-tengah masyarakat yang kelaparan. Pemberantasan kelaparan adalah salah satu syarat untuk menempatkan akidah kedalam qolbu dan paradigma umat manusia.

Puasa juga harus dijadikan sebagai pemberantasan kemiskinan, kebodohan dan penyakit- penyakit sosial lainya yang bisa menghalangi ketakwaan kita kepada Allah SWT. Bulan puasa sebagai bulan ampunan maka ciptakan perdamaian. Bulan puasa sebagai bulan keberkehan maka tingkatkan ketakwaan. Bulan puasa sebagai bulan yang suci maka sucikan segala kekotoran yang ada didalam hati.

Melalui bulan puasa para pemimpin bangsa akan sadar terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Sedang masyarakat akan sadar terhadap eksistensinya sebagai mahluk sosial yang saling hormat- menghormati dalam kesusahan. Mencermati makna puasa melalui pendekatan sosial adalah mencerminkan adanya legitimasi dari umat muslim bahwa puasa adalah bukan hanya sekedar upacara ritual dalam lingkungan tertentu artinya hanya berdo’a dan berzikir dalam masjid tapi juga mampu merasakan fenomena sosial yang terjadi disekitar kita. Langkah pertama Rasulullas SAW dalam berdakwah adalah mencermati fenomena sosial politik yang terjadi didalam masyarakat tertentu yang akan dijadikan sebagai objek pembenahan ahlak.

Langkah seperti ini kita jadikan sebagai bahan pembelajaran untuk mencapai kesuksesan umat baik akhirat maupun dunia.

Persaudaraan

Posted by Unknown on 17.03



“Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara kerena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat.”

Semua muslim adl bersaudara. Karena itu jika bertengkar mereka harus bersatu kembali dan bersaudara seperti biasanya. Hal ini diperkuat oleh larangan Rasulullah SAW terhadap permusuhan antar muslim. Abu Ayyub Al-Anshary meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda “Tidak seorang muslim memutuskan silaturrahmi dgn saudara muslimnya lbh dari tiga malam yg masing-masingnya saling membuang muka bila berjumpa. Yang terbaik diantara mereka adl yg memulai mengucapkan salam kepada yg lain.” .

Persaudaraan yg dimaksudkan adalah bukan menurut ikatan geneologi tapi menurut ikatan iman dan agama. Hal tersebut diisyarakat dalam larangan Allah SWT mendoakan orang yg bukan Islam setelah kematian mereka. Firman Allah SWT “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yg beriman meminta ampun bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adl kerabatnya.”

Ini sama sekali tidak berarti bahwa seorang muslim diijikankan mengabaikan ikatan keluarganya walaupun dgn kerabat non muslim. Dasar kebajkan kepada orang tua dan keluarga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an sendiri. Firman Allah SWT “Dan kami wajibkan manusia kebaikan kepada kedua ibu bapaknya.”

Mengutamakan persaudraan Islam lbh dari yg lain sama sekali tidak mempengaruhi ikatan darah biarpun dgn kerabat non-Muslim.

Nabi SAW menekankan pentingnya membangun persaudaraan Islam dalam batasan-batasan praktis dalam bentuk saling peduli dan tolong menolong. Sebagai contoh Beliau bersabda “Allah SWT menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya” . Bodoh sekali seorang muslim yg mengharapkan belas kasih khusus dari Allah SWT jika ia tidak memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan muslim lainnya. Sebagai akibatnya persaudaraan kaum muslim tidak saja merupakan aspek teoritis ideologi Islam tapi telah terbukti dalam praktek aktual pada kaum muslim terdahulu ketika mereka menyebarkan Islam kepenjuru dunia. Kemanapun orang-orang Arab muslim pergi apakah itu ke Afrika India atau daerah-daerah terpencil Asia mereka akan disambut hangat oleh orang-orang yg telah memeluk Islam tanpa melihat warna kulit ras atau agama lamanya. Tidak ada tempat dalam Islam bagi pemisahan kelas maupun kasta.Tata cara melaksanakan shalat tidak ada tempat istimewa dan semua harus berdiri bahu membahu dalam baris-baris lurus. Demikian pula dalam pemilihan imam tidak didasarkan status sosialnya dalam masyarakat namun atas kemampuannya dalam menghafal al-Qur’an. Itulah mengapa seorang imam dapat di tunjuk dari anak yg berusia enam tahun sebagaimana kejadian pada seorang shahabat muda Salamah. Nabi SAW. mengatakan pada kabilahnya “Jika waktu shalat tiba slah seorang dari kalian harus mengumandangkan adzan “.

Ketika mereka mencari diantara mereka sendiri mereka tidak menemukan orang yg tahu tentang Al-Qur’an lbh dari Salamah sehingga mereka menunjuknya sebagai imam walaupun ia baru berusia enam atau tujuh tahun pada saat itu. .

Pilar ketiga dalam Islam zakat berupa kewajiban atas orang-orang kaya atau relatif kaya utk menyerahkan sebagian dari simpanan tahunan mereka kepada orang-orang miskin merupakan perwujudan tanggung jawab sosial ekonomi dari persaudaraan itu.

Sebab walaupun kedermawanan amat dianjurkan oleh Islam sebagai mana oleh agama lain tanggung jawab ini dalam Islam dilembagakan dan dipungut oleh negara utk menjamin kelangsungan hidup ekonomi orang-orang miskin. Sebenarnya semua hukum-hukum ekonomi dalam islam selalu menekankan perlindungan atas hak-hak persaudaraan.Praktek-praktek ekonomi yg dgn suatu cara menarik keuntungan atau merugikan anggota-angota masyarakat adl terlarang keras.Makanya pinjaman yg diaku dalam Islam adl pinjaman tanpa bunga sebab pinjaman dgn bunga pada umumnya mengambil keuntungan yg tidak adil dari orang lainketika mereka dalam posisi yg secara ekonomis lemah.

Demikian pula pilar terbesar Islam haji yg mengandung esensi pilar-pilar lainnya menekankan persaudaraan orang-orang beriman dalam semua ritus-ritusnya. Pakaian bagi orang-orang lali-laki yg sedang haji dikenal dgn Ihram terdiri dari dua lembar kain selembar dipakai seputar pinggang selembar yg lain diselempangkan di atas bahu. Kesederhanaan pakain ini dikenakan oleh jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia menunjukan hakekat persatuan dan persamaan dalam persaudaraan Islam.

Keaslian prinsip persaudaraan yg meliputi segala upacara keagamaan dan hukum-hukum dalam Islam telah dan terus menjadi faktor kunci dalam menarik manusia di seluruh dunia utk masuk Islam. Namun patut dicatat bahwa prinsip persaudaraan ini telah ditantang dalam prakteknya oleh munculnya nasionalisme diantara kaum muslimin.

Walaupun Allah SWT dan Rasul-Nya dgn tegas menentang segala bentuk tribalisme nasionalisme dan rasisme. Nasionalisme telah ditimbul dikalangan kaum muslim setelah tumbangnya generasi awal Berabad-abad setelah wafatnya Nabi saw nasionalisme arab Persia dan Turki meruntuhkan umat muslim ketika kepemmpinan terus berpindah tangan diantara mereka selama masa-masa itu. Bentuk awal nasionalisme ini kemudian diperberat oleh kolonialisme Eropa yg meninggalkan umat Islam terpecah belah ke dalam seribu satu kesatuaan-kesatuan nasional yg berskala kecil dan dangkal.

Walaupun ikatan umum Islam tetap berlanjut menyatukan umat dalam persaudaraan pemerintah mereka masing-masing mengeksploitasi segala kesempatan yg dapat membangkitkan perasaan-perasaan nasionalisme agar massa muslim tetap terpecah-pecah sehingga pemerintahan mereka yg pada sebagian besar kasus anti Islam dapat terus terpelihara.

Kelemahan yg menghantam kehidupan umat Islam sekarang ini mulai dari runtuhnya khilafah Islamiyah sampai terpuruknya negeri-negeri Islam sehingga harus menjadi bagian dunia ketiga merupakan satu indikasi yg paling jelas menurunnya rasa persaudaraan dikalangan umat Islam itu sendiri. Perpecahan dikalangan umat yg mempunyai kepentingan-kepentingan golongan ikut meluluh lantahkan pilar-pilar persaudaraan itu. Maka kata kunci utk mampu menegakan Islam di seentero jagad ini adl dgn pererat persaudaraan diantara sesama umat Islam dan menyingkirkan jauh-jauh rasa ta’asubiyah dan keyakinan penuh bahwa nasionalisme bukan dari bagian kita sedikitpun.

Oleh Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
sumber file al_islam.chm

Pilihan Untuk Dipertanggungjawabkan

Posted by Unknown on 12.08


Tuhan yang Maha baik memberi kita rezeki, tetapi kita harus menjemput untuk mendapatkannya.
Demikian juga Jika kita terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kita tidak akan pernah mulai
.
Mulailah sekarang ... mulailah di mana kita berada sekarang dengan apa adanya.
Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih sesuatu untuk dicintai,
tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.
Maka tentukanlah pilihanmu untuk masa depanmu !!!.
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(QS Al-Kahfi [18] : 103-104)
Allah telah menciptakan dan menghidupkan kita di dunia lengkap dengan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Manusia yang berakal sehat tidak akan memilih sesuatu yang dapat menyengsarakan dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai hamba Allah yang beriman, pilihan bagi kita adalah apa yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan sesuai kebenaran apa yang Allah inginkan, bukan apa yang kita harapkan.
Manusia adalah makhluk yang merdeka untuk menentukan pilihannya. Kemampuan memilih sesuatu secara sadar merupakan ciri khas yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya. Hidup adalah hasil kumpulan berbagai pilihan. Suka atau tidak suka, setiap kita harus memilih sebuah keputusan. Kita tidak bisa menghindar dari pilihan-pilihan yang setiap saat terhampar di hadapan kita, sehingga warna kehidupan yang kita alami sangat ditentukan dari cara kita memilih dan memainkan peran sesuai dengan skenario yang kita inginkan. Dengan pemikiran seperti ini, tampaklah bahwa segala sesuatu yang menimpa diri kita merupakan konsekuensi dari pilihan yang kita perbuat.
Bahwa hidup yang kita jalani hari ini bukanlah faktor kebetulan tetapi sebuah kesengajaan yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Hidup bukanlah sekedar mencari karir, pangkat, dan jabatan, melainkan rasa tanggung jawab terhadap masa depan. Hidup adalah perjalanan kesadaran untuk memanfaatkan potensi diri, menggapai kebenaran hakiki dalam menuju keridhaan Ilahi.
Digambarkan oleh Ibnul-Qayyim Al- Jauziah dengan kalimat yang begitu indah, yaitu dengan ungkapan: “Bila diri telah berpindah dari keraguan kepada keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari kealpaan kepada dzikir, dari khianat kepada tobat, dari riya’ kepada ikhlas, dari dusta kepada kejujuran, dari kelemahan kepada semangat yang membaja, dari ‘ujub kepada ketundukan, dan dari kesesatan kepada ketawadhuan, ketika itulah jiwa (qalbu) kita berada dalam ketenangan (muthmainnah).
Pada esensinya hidup ini adalah kesempatan sekaligus merupakan ujian. Kesempatan dalam arti apapun yang kita miliki dari mulai usia, harta benda, waktu muda, dan ilmu pengetahuan, semuanya akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT. Ketahuilah, laporan pertanggungjawaban diri di hari perhitungan (yaumul-hisab) nanti dibuktikan secara valid, yaitu anggota badan yang kelak akan dapat berbicara sebagai saksi atas segala apapun yang kita perbuat. Marilah kita renungkan dengan dalam, bahwa Allah telah memenuhi dunia ini dengan aneka ragam kebutuhan makhluk-Nya. Ia menciptakan semuanya sesuai dengan kadar yang kita butuhkan.
Ya Allah, Engkau Yang Maha Rahman, pilihkan kami sesuatu yang membuat Engkau memilih kami sebagai hamba yang bersyukur. Pilihkan jalan hidup kami yang membuat Engkau memilih kami sebagai hamba yang bersabar. Jadikanlah setiap langkah dari perjalanan hidup kami, langkah yang sesuai dengan langkah yang Engkau pilih. Rabb, jangan Engkau ragukan diri kami untuk memilih apa yang Engkau tetapkan. Hadirkan keteguhan dalam diri kami agar tetap istiqamah melakukan sesuatu yang menjadi pilihan-Mu. Amien_



Terima Kasih Ya Allah…Ya Rabbi…

Posted by Unknown on 05.59


25 oktober ,Hari ini berkurang satu tahun lagi usia saya, berarti semakin dekat dengan saat menghadap. Bertambah pula tanggung jawab sosial saya di dunia ini. Mudah-mudahan saya selalu diberikan kekuatan untuk menghimpun dan memberikan banyak manfaat kepada sesama sebagai bekal saya kelak di akhirat nanti. Amiin.

Terima kasih tak terhingga kepada keluarga dan teman-teman semua baik secara online (FB, SMS, Telpon) maupun offline memberikan ucapan doanya kepada saya. Dan semoga doa tersebut juga dilimpahkan untuk keluarga dan teman-teman semua. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita, memberikan kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan dunia akhirat untuk kita semua. Amiin

Sekali lagi terima kasih kepada teman-teman semua…bahagia menjadi bagian dan teman Anda…

Ya Allah,
Hari ini aku dalam kekhusukan dan keihlasan dihadapan hamparan rezekimu...

Ya Allah,
Kau ciptakan aku dari tiada, menjadi ada...
Kemudian kau kembalikan aku kepadamu,...

Ya Allah,
Kehidupanku bejalan dan berputar sesuai dengan kehendakmu

Ya Allah,
Hari ini telah sampai usia ku dalam kedewasaan, jadikanlah aku menjadi khusuk dan tawaduk dalam menerimah hikmah dan berkahmu
bertambah usia dalam hitungaku, berkurang pula usiaku dalam hitunganmu..

Ya Allah,
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat hidup dan menjadi bermanfaat bagi ummatmu yang lain
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih memandang hidup dengan penuh makna dalam kebesaranmu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih bersyukur atas nikmat dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Ya Allah,
Jadikanlah aku termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur terhadap rezeki dan anugrah yang Engkau berikan

Ya Allah,
Terimakasih Engkau telah mengangkat aku menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi
Terimakasih engkau telah memberikan Cahaya Keimanan kepada kami agar kami dapat mengenalmu,


Ya Allah,
Maafkan dosa-dosa ku di tahun-tahun terdahulu ya Allah__
Maafkan salah dan hilap ku pada kalian sobat.__


Terima Kasih Ya Allah…Ya Rabbi…


Never Give Up

Posted by Unknown on 15.39





Dalam merenungku, aku memutuskan untuk menyerah …
Aku menyerah pada pekerjaanku, menyerah pada rutinitasku ,…
Aku ingin menyerah pada hidupku.
Aku menyerah pada perasaanku
Aku protes pada Tuhan. Protes terakhir yang akan aku lakukan.

“Tuhan”, ujarku. “Tolong beri aku satu alasan untuk tidak menyerah”JawabNya membuatku terkejut …
“Lihat sekelilingmu, apakah kamu melihat rumput-rumput dan bambu itu”
“Ya”, aku menjawab.

“Ketika aku menanam benih rumput dan benih bambu, Aku memelihara mereka. Aku menyinarinya, dan menyiraminya. Rumput-rumput itu tumbuh dengan cepat. Membuat tanah ini menjadi hijau, dan kelihatan sangat indah. Namun bibit bambu itu belum tumbuh. Tetapi aku tidak menyerah dan berhenti menunggunya. Sampai pada tahun kedua,ketiga, keempat, rumput-rumput itu semakin banyak dan semakin tinggi. Dan lagi-lagi belum ada tanda-tanda dari bibit bambu. Tetapi aku tetap tidak menyerah. aku tetap menyinari dan menyiraminya” , kataNya.

“Kemudian, pada tahun kelima, sebuah tunas kecil muncul dari dalam tanah.
Dibandingkan dengan rumput-rumput itu, itu hanya masalah kecil dan sepele…

Tetapi hanya 6 bulan kemudian bambu tumbuh ke atas mencapai 20 meter.
Ia telah menghabiskan lima tahun untuk menumbuhkan dan menyebarkan akarnya.
Menjadikannya akar yang kuat dan memberikannya apa yang diperlukan untuk bertahan hidup.”

Dia berkata kepadaku. 
“Aku tidak akan memberikan ujian kepada ciptaan saya kalau mereka tidak bisa melaluinya.” 
“Tahukah kamu, kalau selama ini kamu telah berjuang dalam kehidupan, kamu sedang menumbuhkembangkan akar-akar kehidupan dalam dirimu”

“aku tidak akan menyerah pada bambu. Aku tidak akan menyerah pada kehidupanmu. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.”

”Bambu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan rumput. Namun keduanya mejadikan hutan ini indah.”

“Waktumu akan datang”,

“kamu akan menjalani kehidupan yang begitu indah dan mulia”

“Seindah dan semulia apakah kelak kehidupanku”, aku bertanya.

“Setinggi apakah bambu akan bertumbuh?”, Dia bertanya kembali.

“Setinggi mungkin yang dapat ia capai”, aku menjawab.

“Ya.” Ia berkata, “Berikan kemuliaan padaku dengan membuat hidupmu seindah yang dapat kamu ciptakan. Jalani kehidupan setinggi mungkin, sesuai dengan kemampuan kamu.”

Aku berdiri dari merenungku dan pulang ke rumah dengan membawa cerita ini dan membaginya dengan kalian . aku hanya berharap cerita ini dapat membantu kalian melihat Tuhan yang tidak akan pernah menyerah pada hidup kalian dan aku.

Jangan Pernah menyerah.

Never Give up.!
_______

Terimalah Hamba

Posted by Unknown on 22.34









Sebelas bulan berlalu
Dosa dan salah terus berlaku
Tenggelam dalam nikmatnya waktu
Adalah hamba insan berhati batu

Kenapa ku bangga dengan kebohongan
Kenapa ku puas dengan kemunafikan
Kenapa ku menikmati tiap tetes hinaan
Aku sangat tidak pantas

Seonggok diri yang hina
Mementaskan tarian jiwa
Bersimpuh khusyuk
Pada Doa Tobat

Kupicingkan mata mengintip
Ah..gumpalan debu itu masih melekat di kalbu pekat
Tapi Engkau masih memberiku Ramadhan

Ya rabb....
Diatas dahsyatnya siksa kemalangan
Izinkan aku masuk mereguk ramadhanMu
Biarkan aku menahan perihnya kesabaran
Kuatkan kakiku menopang shalat-shalat malamMu
Bebaskan aku menikmati manisnya zikirMu
Ceriakan aku dengan gema takbirMu
Ringankanlah jalanku

Tak ada yang kuharap dariMu
Kecuali pintu ampunan atas salahku
Terimalah doaku
Terimalah aku



Ghibah

Posted by Unknown on 20.16

“Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (H.R. Muslim)

Islam merupakan agama sempurna yang Allah ? anugerahkan kepada umat Nabi Muhammad !. Kesempurnaan Islam ini menunjukkan bahwa syariat yang dibawa Rasulullah ? itu adalah rahmatal lil’alamin. Sebagaimana Allah ? telah mengkhabarkan di dalam firman-Nya (artinya): “Tidaklah Aku mengutusmu melainkan sebagai rahmatal lil’alamin.” (Al Anbiya’: 107)

Diantara wujud kesempurnaan agama Islam sebagai rahmatal lil’alamin, adalah Islam benar-benar agama yang dapat menjaga, memelihara dan menjunjung tinggi kehormatan, harga diri, harkat dan martabat manusia secara adil dan sempurna. Kehormatan dan harga diri merupakan perkara yang prinsipil bagi setiap manusia.
Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga dan mengangkat harkat dan martabatnya. Ia tidak rela untuk disingkap aib-aibnya atau pun dibeberkan kejelekannya. Karena hal ini dapat menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya dihadapan orang lain.

Rasulullah ? bersabda:
“Setiap muslim terhadap muslim lainnya diharamakan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.” (H.R Muslim no. 2564)

Hadits diatas menjelaskan tentang eratnya hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama muslim. Bahwa setiap muslim diharamkan menumpahkan darah (membunuh) dan merampas harta saudaranya seiman. Demikian pula setiap muslim diharamkan melakukan perbuatan yang dapat menjatuhkan, meremehkan, atau pun merusak kehormatan saudaranya seiman. Karena tidak ada seorang pun yang sempurna dan ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali para Nabi dan Rasul. Sebaliknya selain para Nabi dan Rasul termasuk kita tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan.

Suatu fenomena yang lumrah terjadi dimasyarakat kita dan cenderung disepelekan, padahal akibatnya cukup besar dan membahayakan, yaitu Ghibah (menggunjing). Karena dengan perbuatan ini akan tersingkap dan tersebar aib seseorang, yang akan menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya.

Tahukah anda apa itu ghibah? Sesungguhnya kata ini tidak asing lagi bagi kita. Ghibah ini erat kaitannya dengan perbuatan lisan, sehingga sering terjadi dan terkadang diluar kesadaran.

Ghibah adalah menyebutkan, membuka, dan membongkar aib saudaranya. Al Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari shahabat Abu Hurairah ?, sesungguhnya Rasulullah ? bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau ? bersabda:
“Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membecinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah”

Di dalam Al Qur’anul Karim Allah ? sangat mencela perbuatan ghibah, sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al Hujurat: 12)

Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i berkata dalam tafsirnya: “Sungguh telah disebutkan (dalam beberapa hadits) tentang ghibah dalam konteks celaan yang menghinakan. Oleh karena itu Allah ? menyerupakan orang yang berbuat ghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya. Sebagaimana firman Allah … (pada ayat di atas). Tentunya itu perkara yang kalian benci dalam tabi’at, demikian pula hal itu dibenci dalam syari’at. Sesungguhnya ancamannya lebih dahsyat dari permisalan itu, karena ayat ini sebagai peringatan agar menjauh/lari (dari perbuatan yang kotor ini). ” (Lihat Mishbahul Munir)

Suatu hari Aisyah ? pernah berkata kepada Rasulullah ? tentang Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. Maka beliau ? bersabda:
“Sungguh engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan merubah air laut itu.” (H.R. Abu Dawud 4875 dan lainnya)

Asy Syaikh Salim bin Ied Al Hilali berkata: “Dapat merubah rasa dan aroma air laut, disebabkan betapa busuk dan kotornya perbutan ghibah. Hal ini menunjukkan suatu peringatan keras dari perbuatan tersebut.” (Lihat Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin 3/25)

Sekedar menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras dari Rasulullah ?, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih keji dari itu?

Dari shahabat Anas bin Malik ?, bahwa Rasulullah ? bersabda:
“Ketika aku mi’raj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud no. 4878 dan lainnya)

Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadits ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12.

Dari shahabat Ibnu Umar ?, bahwa beliau ? bersabda:
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya)

Dari shahabat Jabir bin Abdillah ?, beliau berkata: “Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah ? mencium bau bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah ? berkata: ‘Apakah kalian tahu bau apa ini? (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.” (H.R. Ahmad 3/351)

Dari shahabat Sa’id bin Zaid ? sesungguhnya Rasulullah ? bersabda:
“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar (dalam riwayat lain: termasuk dari sebesar besarnya dosa besar) adalah memperpanjang dalam membeberkan aib saudaranya muslim tanpa alasan yang benar.” (H.R. Abu Dawud no. 4866-4967)

Dari ancaman yang terkandung dalam ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan ghibah ini termasuk perbuatan dosa besar, yang seharusnya setiap muslim untuk selalu berusaha menghindar dan menjauh dari perbuatan tersebut.

Asy Syaikh Al Qahthani dalam kitab Nuniyyah hal. 39 berkata:
“Janganlah kamu tersibukkan dengan aib orang lain, justru kamu lalai Dengan aib yang ada pada dirimu, sesungguhnya itu dua keaiban”
(Lihat Nashihati linnisaa’ hal. 32)

Maksudnya, bila anda menyibukkan dengan aib orang lain maka hal itu merupakan aib bagimu karena kamu telah terjatuh dalam kemaksiatan. Sedangkan bila anda lalai dari mengoreksi aib pada dirimu sendiri itu juga merupakan aib bagimu. Karena secara tidak langsung kamu merasa sebagai orang yang sempurna. Padahal tidak ada manusia yang sempurna dan ma’shum kecuali para Nabi dan Rasul.

Konteks dalam hadits:
“Engkau menyebutkan sesuatu pada saudaramu yang dia membecinya.”
Hadits di atas secara zhahir mengandung makna yang umum, yaitu mencakup penyebutan aib dihadapan orang tersebut atau diluar sepengetahuannya. Namun Al Hafizh Ibnu Hajar menguatkan bahwa ghibah ini khusus diluar sepengetahuannya, sebagaimana asal kata ghibah (yaitu dari kata ghaib yang artinya tersembunyi) yang ditegaskan oleh ahli bahasa. Kemudian Al Hafizh berkata: “Tentunya membeberkan aib di hadapannya itu merupakan perbuatan yang haram, tapi hal itu termasuk perbuatan mencela dan menghina.” (Fathul Bari 10/470 dan Subulus Salam hadits no. 1583, lihat Nashihati linnisaa’ hal. 29)

Demikian pula bagi siapa yang mendengar dan ridha dengan perbuatan ghibah maka hal tersebut juga dilarang. Semestinya dia tidak ridha melihat saudaranya dibeberkan aibnya.

Dari shahabat Abu Dzar ?, bahwa Rasulullah ? bersabda:
“Barang siapa yang mencegah terbukanya aib saudaranya niscaya Allah akan mencegah wajahnya dari api neraka pada hari kiamat nanti.” (H.R. At Tirmidzi no. 1931 dan lainnya)

Demikian juga semestinya ia tidak ridha melihat saudaranya terjatuh dalam kemaksiatan yaitu berbuat ghibah. Semestinya ia menasehatinya, bukan justru ikut larut dalam perbuatan tersebut. Kalau sekiranya ia tidak mampu menasehati atau mencegahnya dengan cara yang baik, maka hendaknya ia pergi dan menghindar darinya. Allah ? berfirman (artinya):
“Dan orang-orang yang beriman itu bila¬ mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya, dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, semoga kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al Qashash: 55)

Dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri ?, bahwa Rasulullah ? bersabda:
“Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaknya dia mengingkarinya dengan tangan. Bila ia tidak mampu maka cegahlah dengan lisannya. Bila ia tidak mampu maka cegahlah dengan hatinya, yang demikian ini selemah-lemahnya iman.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Namun bila ia ikut larut dalam perbuatan ghibah ini berarti ia pun ridha terhadap kemaksiatan, tentunya hal ini pun dilarang dalam agama.

Lalu bagaimana cara bertaubat dari perbuatan ghibah? Apakah wajib baginya untuk memberi tahu kepada yang dighibahi? Sebagian para ulama’ berpendapat wajib baginya untuk memberi tahu kepadanya dan meminta ma’af darinya. Pendapat ini ada sisi benarnya jika dikaitkan dengan hak seorang manusia. Misalnya mengambil harta orang lain tanpa alasan yang benar maka dia pun wajib mengembalikannya. Tetapi dari sisi lain, justru bila ia memberi tahu kepada yang dighibahi dikhawatirkan akan terjadi mudharat yang lebih besar. Bisa jadi orang yang dighibahi itu justru marah yang bisa meruncing pada percekcokan dan bahkan perkelahian. Oleh karena itu sebagian para ulama lainnya berpendapat tidak perlu ia memberi tahukan kepada yang dighibahi tapi wajib baginya beristighfar (memohan ampunan) kepada Allah ? dan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dighibahi itu di tempat-tempat yang pernah ia berbuat ghibah kepadanya. Insyaallah pendapat terakhir lebih mendekati kebenaran. (Lihat Nashiihatii linnisaa’: 31)

Para pembaca, karena perbuatan ghibah ini berkaitan erat dengan lisan yang mudah bergerak dan berbicara, maka hendaknya kita selalu memperhatikan apa yang kita ucapkan, apalagi jika yang dibicarakannya tidak seperti apa yang sebenarnya. Jangan sampai tak terasa telah terjatuh dalam perbuatan ghibah. Kita bisa menjaga tangan dan lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain,


  • RSS
  • Delicious
  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site